Akhir tahun masehi di negeriku belumlah reda hujan deras, dan juga belumlah reda keributan-keributan yang entah siapa yang memulai, ataukah keributan itu secara simultan terjadi begitu saja, ada asap maka ada api, tapi tidak selamanya asap itu berasal dari api, di musim dingin yang sangat di beberapa negeri yang memiliki musim salju juga mengeluarkan asap dari mulut-mulut mereka padahal tak ada api. Tapi yang jelas, kalau asap itu ada karena ada reaksi kimia yang terjadi atau perpindahan bentuk materi ke bentuk materi lain akibat pengaruh titik beku, titik didih atau titik, ngak perlu dibahas, karena ini adalah cakupan kimia yang rumit.
Negeriku yang kaya sumber alamnya, ramah penduduknya, semangat gotong royongnya patut diacungi jempol, solidaritas dan toleransi antar umat beragama baik-baik saja, memiliki musik dangdut yang konon sebagai musik pemersatu, budaya yang beraneka ragam, dan lain-lain sebagainya. Tapi itu hanya aku dapatkan di bangku sekolah beberapa tahun yang silam, di mana sekolahku saat itu terdapat dua kepala sekolah, padahal satu bangunan, dan timbul pertanyaan, apakah dengan dua kepala sekolah anak-anak seperti diriku bakal jadi anak cerdas?, apakah ini pengajaran yang pas untuk menjadi pemimpin. Dan ternyata, satu bangunan itu terdapat dua sekolah, mungkin karena saat itu negeri ini kelebihan pemimpin maka dibagilah jatah kekuasaan masing-masing. Itu dulu, dan sekarang mungkin sudah beda dan sekolah itu sepertinya sudah berdiri sendiri tapi tetap di bawah naungan Departemen Pendidikan.
Akhir tahun di setiap tahunnya selalu saja ada cerita, pernah beberapa tahun yang lalu Indonesia harus bersedih yang sangat sangat sangat menyedihkan, kerugian dan mungkin trauma itu masih membekas sampai sekarang, tsunami yang menggemparkan itu telah merengut jiwa-jiwa bangsa ini. sungguh tragis, namun itulah bencana yang tidak bisa ditolak. Salah satu tanda kemahaperkasaan Allah, walau kita tahu kalau manusia juga mampu membuat bom atom yang ledakannya cukup dahsyat, tapi satu yang pasti bahwa manusia tak ada yang abadi. Itu hanya sebagian kecil ilmu yang diberikan oleh Allah. dan manusia juga bisa membuat bencana, hanya menanamkan reaktor ke dalam laut, maka tsunami buatan dapat terjadi.
Setelah beberapa tahun lewat dan memasuki babak berikutnya dalam kehidupan bernegara, negeri ini serasa tidak sepi dengan berbagai peristiwa dan permasalahan, gempa yang terjadi di Padang kembali mengiris kalbu, namun sebagai manusia biasa yang ingin menjadi luar biasa, hanya pasrah dan bertawakal.
Kemudian ada lagi persoalan yang terjadi karena ambisi, gengsi mungkin, atau malah kerakusan akan sebuah kursi dan kekuasaan. Media-pun tak pernah sepi dengan berita heboh, masyarakat kembali terperangah dan timbul pertanyaan “What’s going on?”, politik nampaknya yang paling sering menghiasi media. pemilu tahun 2009 menyisakan beberapa sengketa *kayak sengketa tanah saja*, masih ingat cicak vs buaya, salah satu kasus yang juga menghebohkan, seperti sebuah sinetron yang membuat penontonnya harus tegang dan ikut-ikutan men-judge peran yang tidak disukainya.
Kemudian ada juga persoalan tentang klaim mengklaim, berangkali salah satu tamparan bagi negeri ini untuk menghargai budaya sendiri, melestarikan, menjaga dengan sebaik-baiknya, dan tentu saja masyarakat dan bersama pemerintah harus bangga dengan keberadaan bangsa ini, tidak hanya sibuk berpolitik yang ujung-ujungnya penuh taktik yang juga mengelitik.
Manohara, Prita Mulyasari, dan sederatan cerita lainnya juga ikut meramaikan perjalanan bangsa ini. dan juga berita tentang kematian mantan presiden Abdur Rahman Wahid atau Gusdur yang semasa hidupnya juga dipenuhi kontroversi, semoga masyarakat semakin cerdas dengan pemberitaan media. Semoga Gusdur mendapatkan tempat yang terbaik di alam sana.
Dan ada juga yang cukup menghebohkan, buku yang ditulis oleh lelaki gondrong dengan memakai istilah binatang laut “Gurita” telah menuai perdebatan, hingga kemarin aku menyaksikan di tv bagaimana si penulis itu menampar pakai buku di muka umum yang disorot kamera kepada seorang lelaki, terkait isi dari buku itu. Kejadian yang cukup berani, entah pasal berapa yang akan menjeratnya.
Gurita yang memiliki banyak tentakel tentu leluasa memegang/mengait beberapa karang sekaligus jika dibandingkan dengan manusia yang hanya memiliki dua tangan yang hanya bisa memegang dengan kedua tangannya, satu tangan bisa saja memegang mouse computer dan tangan lainnya bisa saja memegang segelas kopi. Atau juga bisa memegang benda-benda lainnya tapi ngak seluwes gurita hanya sebatas kedua tangan itu.
Sayang, aku tidak bisa berkomentar banyak tentang buku itu karena belum membacanya alias ngak punya, tapi menurutku itu adalah termasuk persoalan besar dan tentu rumit bagi masyarakat awam seperti diriku ini, yang aku harapkan hanyalah, semoga bangsa ini, baik yang gundul maupun yang keriting rambutnya tetaplah akur alias ngak usahlah ribut-ribut, masih banyak persoalan yang perlu segera diselesaikan. Dan ingat perbedaan itu adalah wajar dan penuh hikmah, namun perpolitikan di Indonesia sungguh ruwet, bercabang-cabang kasusnya, mungkin seperti tentakel-tentakel gurita tadi.
Tapi ingat, gurita itu adalah gundul dan keriting tetap akur, gimana? Setuju khan?. dan aku ucapin..
HAPPY NEW YEAR 2010, Masehi..
Masa lalu telah lewat dan tak mungkin bisa dibalikkan,
Masa Kini adalah kenyataan, masa yang menentukan setiap langkah ke depannya.
Masa depan tak perlu dikhawatirkan, jika doa dan usaha telah bersinersi maka berkahlah segalanya..
Haerulsohib, mencuplik dari buku tapi lupa judulnya…
By : Haerulsohib, akhir tahun masehi 2009, ayo senyum, seperti kalimat bijak yang pernah aku baca “Senyum adalah sedekah”, tapi pertanyaannya sekarang adalah, jika anak muda seperti saya tersenyum sama seorang cewek cantik, apakah itu termasuk sedekah?,:)